Saya tulis artikel ini ketika jarum jam tepat sekali menunjukkan pukul 02.00 tengah malam. Mungkin sudah menjadi kebiasaan saya untuk memilih waktu bekerja pada malam hari. Hening sekali rasanya. Keluarga saya sudah tidur semua, yang tersisa cuma desiran suara hembusan angin dari sebuah fan yang tak hentinya membolak-balikkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Dengan ditemani scangkir kopi panas dan sebungkus rokok tergeletak didepan dimeja komputer sehingga peringatan pemerintah yang tertulis di bungkusnya menghadap tepat ke arah pandangan saya, saya akan coba bawa anda ke suasana yang saya rasakan malam ini agar anda dapat mengimajinasikannya, hingga tercipta keadaan yang rileks sembari anda juga mulai duduk santai dan mengendurkan semua otot2 yang kaku dan tegang. Renungan saya yang pertama kali ini akan membahas sedikit tentang sebuah fenomena yang saya alami langsung dalam kehidupan mengenai pola pikir.
Bahwasanya, apapun keadaan yang sedang kita alami, tidaklah menjadi penentu utama atas apa yang akan terjadi.
Teman2 pembaca sekalian,,,
Baru2 ini saya sadar bahwa saya tidak direncanakan untuk dilahirkan dan dibesarkan untuk menjadi seorang yang besar. Tidak pula diharapkan menjadi seorang maestro di sebuah bidang. Karena dari kecil, pola pikir ortodoks dari orang tua saya yang notabene juga telah melekat dalam kultur kehidupan keluarga besar, memaksa saya untuk menjadi pribadi yang TIDAK kreatif. Maksudnya ortodoks adalah mereka berharap bahwa anaknya ini bisa menjadi seorang sarjana lalu mendapatkan pekerjaan layak dengan berbekal selembar kertas dihiasi tanda tangan rektor universitas atau biasa disebut Ijazah.
Dikenal sebagai seorang anak yang mudah terpengaruh karena mempunyai hobi yang aneh. Hobi berganti-ganti hobi. Jangan bingung. Maksudnya, saya sangat menyukai banyak hal, hingga saya terlihat seperti orang yang tidak concern terhadap satu hal. Walaupun saya membuktikannya, saya lakukan semua hal tersebut dengan sangat baik. Mulai dari Olahraga, agama, sampai ketrampilan. Tapi, lagi2 semuanya tidak didukung oleh keluarga. Mereka beralasan, semua yang saya lakukan tersebut tidak ada kaitannya dengan pendidikan formal, sehingga tidak berpengaruh terhadap masa depan saya. Kenyataan ini semakin diperkuat dengan studi saya yang terbilang cukup berantakan hasilnya ditambah saya yang mulai teracuni dengan doktrin para pengusaha-pengusaha sukses dengan ilmu-ilmu bisnis dan suksesnya.
Saya dicekal habis-habisan, tidak didengar juga apa yang saya utarakan, pokoknya keadaan saat itu benar-benar tidak berpihak pada saya. Tapi dasarnya memang batu (kata anak muda sekarang), “Bukan sukses namanya kalau jalannya mulus-mulus aja”, gumam saya dalam hati. Keyakinan tersebut telah membuat saya makin tertantang untuk membuktikan bahwa saya tidak akan berubah menjadi lebih baik jika masih memakai cara-cara lama.
Mengacu pada rumus yang saya kutip dari buku Jack Canfield “The Success Principles: How to Get From Where You Are to Where You Want to Be”,
E (Event) + R (Response) = O (Outcome)
Ternyata apa yang saya alami ketika itu tidaklah mempengaruhi apa yang saya dapatkan sekarang. Tetapi response atau penyikapan-nyalah yang telah membuat saya berubah menjadi manusia yang lebih baik. Kini mereka percaya pola pikir saya. Pola pikir yang selalu terbuka terhadap perubahan. Right, It’s Usually called by Open Minded.
Kita memang tidak bisa mengendalikan atau merubah keadaan sekarang (E), tapi kita bisa merubah penyikapan kita (R) untuk mempengaruhi hasilnya (O). Ada beberapa contoh yang bisa kita ambil dari pola pikir orang2 sukses. Mereka biasanya me-respon segala keadaan (Event) dengan cara yang sangat bertolak belakang dengan orang-orang lain pada umumnya.
Kalau orang lain bicara : “Bisa sih, tapi sulit”,
Maka anda harus bicara : “Sulit sih, tapi bisa”
Begitu juga yang saya alami ketika dihadapkan pada suatu masalah. Saya banyak mengalami dimana banyak orang ketika menemmui sebuah masalah, mereka sibuk mengupas masalahnya hingga akar-akarnya, hingga lupa untuk memikirkan solusinya. Rubahlah polanya. Ketika kita menemui masalah dan kita dituntut untuk membahasnya, saya coba analogikan layaknya sebuah barisan bilangan dengan range 1 s.d 10. Maka kita harus membahas dan mengemukakan masalah hanya dengan 1 s.d 2 saja, selebihnya yaitu 3 s.d 10 mulai fokus pada solusi.
Beranikah anda merubahnya?
Benar ! hidup ini takdir, tapi sukses atau tidak adalah pilihan, kawan…
Best Regards, Basrul Yandri
Kalau orang lain bicara : “Bisa sih, tapi sulit”,
Maka anda harus bicara : “Sulit sih, tapi bisa”
wah saya setuju bnged,
and saya harus mulai nih,
ya walaupun sulit sih, tapi BISA
cik….cik…cik…cik…”G tau gw harus comment apa!!.
artikel yang langsung menghujam petualangan di tahun,jam,dan hari saat dilema gw waktu itu .thanks man!!
Thank u, bro ! Mudah2an jadi pembelajaran yg berarti buat kita and anak2 semuanya. Just Go Ahead, man !
I Like it, Bro Fach
waduh mas…. gaol bangets artikelnya boleh kasi tau alamat fb-nya gak? mungkin bisa ngajari aku cara tepat dan cara ganteng buat artikel. oke…
Nice…nice…nice….!